Tantangan yang menjadi harapan

Rasanya seperti melihat air di tengah gurun pasir ketika saya melihat postingan FB seorang teman tentang tantangan menulis 30 hari. Yes!! Ini yang kutunggu-tunggu selama ini. Bukan hadiahnya, tapi tantangan menulisnya. 

Sudah lama saya ingin menerbitkan buku sendiri, tapi tak pernah terealisasi. Masalahnya cuma dua: Saya tidak konsisten menulis dan tidak fokus. Sulit mempertahankan ‘niat’ dan tetap fokus pada tujuan. Namun saya punya keunikan. Paling tidak unik menurut saya sendiri, hehe… Yakni saya suka hal-hal yang bersifat menantang seperti challenge menulis dan challenges lainnya. Saya orang yang harus ‘dipaksa’ kemudian diberi deadline. Dengan begitu saya akan berusaha sekuat tenaga dan meluangkan waktu untuk menyelesaikannya. 

Dulu saya pernah mengikuti kelas dasar menulis online. Gurunya seorang penulis terkenal yang sudah mencetak banyak penulis baru, salah satunya teman saya. Dia sukses menerbitkan beberapa buku. 

Tujuan saya mengikuti kelas itu bukan untuk belajar menulis, tapi guna mendapatkan lingkungan yang memotivasi saya untuk menulis. Saya berharap mendapatkan 'tenaga lebih' dengan bergabung di komunitas mereka. Tapi ternyata saya tidak. Di sana saya tidak mendapatkan apa yang saya harapkan selain ilmu dasar menulis.

Tepat di usia yang ke-55 pada 4 Juli 2022, saya mendapatkan pesan Whatsapp dari Irfan Noerani, salah seorang anggota di Team Arfeen Khan, yang mengundang saya untuk mengikuti kursus menulis buku Book to Fortune batch 2 (BTF 02) sebagai Special Bonus. Semangat saya bangkit lagi. Alhamdulillah di situ saya mendapatkan lingkungan yang sangat mendukung sehingga saya termotivasi untuk menulis dan menerbitkan buku sendiri.

Kini bukunya sudah rampung dan siap terbit. Namun setelah kursus berakhir, semangat saya kembali melempem. Tak ada lagi tantangan. Sampai suatu hari postingan milik Teh Citi Eet lewat di beranda FB saya, isinya tentang tantangan menulis 30 Hari Berbagi Rasa 2023 bersama D’Best Publishing.

Yes! Saya langsung bergabung. Ternyata saya tidak salah mengambil keputusan. Di sini saya bertemu dengan para sahabat penulis yang hebat-hebat. Di sini juga saya mendapatkan lingkungan yang saya harapkan. Semoga istiqamah.

Mengapa saya ingin sekali menulis? Ingin terkenal kah?

Tidak! Bukan itu tujuannya. Saya selalu bermimpi untuk mempunyai amal jariyah. Tak banyak harta yang saya punya. Semoga sedikit coretan saya bisa bermakna dan bermanfaat untuk orang banyak dan menjadi amal jariyah yang terus mengalir setelah saya wafat. Khairunnas anfauhum linnas. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Semoga ini menjadi langkah awal saya memulai karier di dunia menulis.

Kembali ke laptop. Saya pun bergabung dengan tantangan 30 Hari Berbagi Rasa 2023 ini. Alhamdulillah di grup ini saya bertemu dengan banyak penulis hebat. Semangat mereka untuk menulis turut meningkatkan semangat saya jua. Sejak hari pertama sampai sekarang saya masih bertahan menulis. Semoga istiqamah dengan kegiatan positif ini meski program telah berakhr.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman body rafting di Citumang Pangandaran: Seru dan Berkesan!

Belajar dari Qatar dan Mesir

Minggat